Tan Malaka bak selebritas. Kisah hidupnya dicuplik untuk
kisah roman, sosoknya dipalsu dan diburu.
-----------------------
NOVEMBER 1945. Tan Malaka sedang dalam perjalanan dari
Yogyakarta menuju Surabaya. Di dalam mobil yang ditumpanginya, dia membawa
serta bahan buku Madilog. Belum sampai di tempat tujuan, terbetik kabar sudah
ada ”Tan Malaka” di Surabaya. Dia berorasi di hadapan para pejuang kemerdekaan.
Pidatonya disiarkan stasiun radio lokal.
Begitu tiba di Surabaya, ia ditahan sejumlah aktivis, begitu
juga Tan yang sudah berpidato. Soemarsono, pemimpin pemuda pejuang di Surabaya,
membawa keduanya ke sebuah rumah. Menurut Harry A. Poeze, pengarang buku
tentang Tan Malaka, kedok Tan palsu terbongkar lantaran penjelasannya tidak
masuk akal. ”Gara-gara kasus itu, hampir saja bahan Madilog hilang,” kata Tan
dalam pengantar bukunya tersebut.
Kisah Tan gadungan tak cuma sekali. Pada 1949, nama Tan
muncul dalam sebuah wawancara di koran lokal di Kediri, Jawa Timur. Yang
menggelikan, pemuatannya terjadi setelah Tan meninggal. Menurut Poeze,
jawaban-jawaban dalam wawancara juga tak sesuai dengan pemikiran Tan Malaka.
Peniruan atas Ibrahim Datuk Tan Malaka menurut Poeze,
didorong kepentingan pribadi, seperti keuntungan finansial dan ketenaran, serta
penjajah. Pemerintah kolonial Jepang berkepentingan menciptakan duplikat Tan
Malaka. ”Tujuannya, memancing orang-orang radikal keluar,” kata Poeze. Siasat
ini cukup berhasil. Sejumlah orang gerakan bawah tanah ditangkap dengan
pancingan itu. Namun tak ada satu pun teman dekat Tan yang masuk perangkap.
Tan Malaka pun tahu bahwa dia ”terkenal” pada masa itu.
Ketika Tan ke Medan pada awal 1942, seorang pedagang buku loakan mengatakan
kepadanya bahwa ”Tan Malaka” berada di Padang dan sedang berpidato sebagai
tentara Nippon berpangkat kolonel. ”Saya maklum, Jepang melakukan taktik ini
untuk menipu rakyat,” kata Tan dalam biografinya, Dari Penjara ke Penjara.
Pencarian terhadap dirinya dimulai saat ia aktif di partai.
Pada 1921, ia memimpin Partai Komunis Indonesia, menggantikan Semaun yang pergi
ke Moskow. Sejak itu, sepak terjangnya selalu diawasi penjajah Belanda. Bahkan
jaringan polisi internasional pun memburunya.
Tan juga pernah ”dipalsu” dalam roman-roman berbumbu cerita
spionase. Hasbullah Parindurie adalah orang pertama yang menulis kisahnya.
Bahan utamanya dari Tan sendiri, berupa lima surat yang dikirim ke Adinegoro,
pemimpin Pewarta Deli. Awalnya, surat-surat itu ditampilkan sebagai cerita
bersambung di surat kabar itu pada Juli-September 1934 dengan judul
”Spionnage-dients”. Empat tahun kemudian, Hasbullah menerbitkannya menjadi buku
roman berjudul Patjar Merah Indonesia dan ia memakai nama samaran Matu Mona.
Buku ini berlatar kehidupan Tan di Thailand, Singapura,
Kamboja, dan Hong Kong dalam kurun 1930-1932. Selain berbicara tentang politik,
ada kisah cinta Tan yang dalam cerita itu bernama Vichitra atau Patjar Merah
dengan Ninon Phao, seorang putri Thailand. Menurut Ichwan Azhari, Ketua Pusat
Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Universitas Negeri Sumatera Utara, roman semacam
Patjar Merah kala itu diburu pembaca. ”Itu membuatnya menjadi sosok yang
dimitoskan,” kata Ichwan.
Setelah itu, masih ada beberapa roman tentang Tan Malaka.
Salah satunya Tan Malaka di Kota Medan karangan Muchtar Nasution, yang bernama
pena Emnast. Roman yang pertama kali diterbitkan pada 1941 itu, menurut Ichwan,
juga diburu pembaca. Ini berlangsung hingga awal kemerdekaan. Dengan gaya hidup
Tan yang selalu menyamar, tak mengherankan jika dia menjadi legenda, sekaligus
sosok misterius pada masanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar