Adsense

Pages - Menu

Tampilkan postingan dengan label Tan Malaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tan Malaka. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Februari 2014

Karya-karya Tan Malaka "Tokoh Aliran Kiri"

Beberapa waktu yang lalu, Buku terbaru tentang Tan Malaka, karya penulis Harry Poeze, berjudul Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia, sudah diluncurkan pada hari Rabu 5 Februari 2014 yang lalu. Bedah Buku dilakukan di Jakarta pusat berlokasi Fadli Zon Library. Buku itu adalah terjemahan dari buku asli Poeze yang diterbitkan dalam bahasa Belanda. Ini sekaligus merupakan bagian keempat dari rangkaian karya Harry Poeze soal Tan Malaka.

Belakangan setelah itu dilakukan kembali pada hari Sabtu 8 Februari 2014 di Kota Kediri “Kampus Universitas Nusantara PGRI (UNP) menggelar bedah buku serupa, Seratus lebih mahasiswa mengikuti diskusi tersebut. Sebelumnya dijadwalkan menjadi pembicara diskusi bedah buku di Perpustakaan C Surabaya. Namun acara tidak jadi terlaksana karena mendapat penolakan dari kelompok Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur. Polisi dan TNI mendatangi lokasi sebelum diskusi berlangsung, untuk mengabarkan massa FPI bakal membubarkan acara tersebut. Sehingga acaa batal dilangsungkan.

Tan Malaka seorang Revolusioner Indonesia yang terasingkan dari negara impinannya sendiri, namanya memang mendapatkan gelar kepahlawanannya dari pemerintah Indonesia, namun sejak era Orde Baru nama Tan Malaka dihilangkan dari buku-buku pengetahuan terkait perjalanan sejarah Indonesia, sehingga banyak orang yang tidak mengenalnya sebagai pejuang sejati dan bahkan Tan Malakalah yang mencetuskan pertama kali istilah Republik Indonesia dalam tulisannya yang berjudul "Naar de Republiek Indonesia" (Menuju Republik Indonesia) di Kanton April 1925.

-         

Minggu, 09 Februari 2014

Tan Malaka


Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia, filsuf kiri, pemimpin Partai Komunis Indonesia, pendiri Partai Murba, dan Pahlawan Nasional Indonesia.

Kehidupan awal

Nama asli Tan Malaka adalah Ibrahim, sedangkan Tan Malaka adalah nama semi-bangsawan yang ia dapatkan dari garis ibu. Nama lengkapnya adalah Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka. Tanggal kelahirannya tidak dapat dipastikan, dan tempat kelahirannya sekarang dikenal sebagai Nagari Pandan Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Ayahnya bernama HM. Rasad, seorang karyawan pertanian, dan Rangkayo Sinah, putri orang yang disegani di desa. Tan Malaka mempelajari ilmu agama dan berlatih pencak silat. Pada tahun 1908, ia didaftarkan ke Kweekschool (sekolah guru negara) di Fort de Kock. Menurut gurunya GH Horensma, Malaka, meskipun kadang-kadang tidak patuh, adalah murid yang pintar. Di sekolah ini, ia menikmati pelajaran bahasa Belanda, sehingga Horensma menyarankan agar ia menjadi seorang guru di sekolah Belanda. Ia juga adalah seorang pemain sepak bola yang hebat. Ia lulus dari sekolah itu pada tahun 1913. Setelah lulus, ia ditawari gelar datuk dan seorang gadis untuk menjadi tunangannya. Namun, ia hanya menerima gelar datuk. Ia menerima gelar tersebut dalam sebuah upacara tradisional pada tahun 1913.

Sabtu, 24 November 2012

Orang tua dan Anak-anaknya

Dan seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dekapan dadanya berkata, bicaralah pada kami perihal anak.
Dan dia berkata:
Anakmu bukanlah anakmu
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau,
Dan walau mereka bersamamu tapi mereka bukan kepunyaanmu.

Kau dapat memberi mereka cinta-kasihmu tapi tidak pikiranmu,
Sebab mereka memilik pikirannya sendiri,
Kau bisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya,
Sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan, yang tiada dapat kau sambangi, bahkan tidak dalam impian-impianmu.
Kau boleh berusaha menjadi seumpama mereka, tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu.

Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin.
Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan nan tiada terhingga, dan Dia menekukkan engkau dengan kekuasaan-Nya agar anak panah-Nya dapat melesat cepat dan jauh.
Meliuklah dengan riang di tangan Sang Pemanah.
Sebab sebagaimana Dia mengasihi anak panah yang melesat, demikian pula Dia mengasihi busur nan mantap.

Itulah kutipan dari karya "Sang Nabi" Kahlil Gibran
Dia menunjukkan betapa sucinya seorang anak yang baru lahir ke kehidupan, dengan tiada yang dapat menentukan akan hidupnya nanti. Memiliki kemerdekaan abadi dari lahir hingga kembali mati melalui jalan yang Dia pilih sendiri, tanpa ada campur tangan dari sang Ibu. Namun Ibu hanya memberikannya air susunya agar kelak sang anak menjadi kuat.

BR, Asrama Kukar Yogyakarta.

The Power of Life

Syukuri apa yang ada
Karena yang ada adalah anugerah
Tuhan bekerja dengan misterius
Tiada yang tau apa yang akan terjadi
Apa yang tiada kita miliki
Jangan anggap sebagai kelemahan
Karena kekuataan tidak datang dari kesempurnaan
Melainkan dari Cinta yang tulus
Jangan menyerah jadilah Bintang

BR, Yogyakarta.....

Kamis, 15 November 2012

Tameng Ibu Pertiwi

Ibu Pertiwi ku tanah lahir
Tiada daya ku menggapainya
Ingin ku kembali kesana
Namun pahit kenyataan
Ayah ku korban licik penguasa
imbas ke garis keturunannya
namun hanya keluarga ini
yang harus menerima kekejaman
para pendahulu yang telah rapuh
Menunggu hingga kini silih berganti
tiada lahir jalan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi
Sempat cahaya terang hadir
dari tangan "Ireng"
Namun tiada dukungan kawan
Akankah terus menunggu
tangan siapa yang mau menarik Kami
kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi
untuk kepastian masa kini dan masa depan.



Harapan yg sudah berpuluh-puluh tahun untuk kembali ke Tanah Ibu Pertiwi sebagai korban politik di masa silam sempat tiba sebuah titik terang. haru dan air mata tak mampu terbendung dengan kabar angin tersebut, namun langkah untuk menyelesaikan itu tidak bergaung. Pemimpin silih berganti yg melahirkan kebijakan konstruktif pencari kebenaran dan rekonsiliasi untuk menyembuhkan luka sejarah dan politik yang sudah berlangsung lama hanya sebatas keinginan saja dan semata berhujung kekecewaan.


Review Buku Ibarruri " Putri Alam"
BR, Yogyakarta

Minggu, 16 September 2012

Putra Semalam

Sembilan bulan tiada dikandung
Hanya satu malam dilahirkan
Senyum kasih dan sayang
Putra semalam di tanah Sultan

Mentari pagi sampaikan salamnya
Mengukir jejak seribu langkah
Bersorak ramai riang gembiranya
Batu hitam saksi dalam langkah

Dalam gelap menutup tangan
Kemesraan dalam hangat pelukan
Air mata tak kunjung padam
Menjadi putra dalam semalam

16 september 2012
11.30 WIT Perairan laut maluku
BR

Rabu, 05 September 2012

Ambon Manise

Halong tempatku bersandar
Menjadi awal langkah kaki
Untuk layar tidak terkembang

Biru lautmu, hijau hutanmu
Putih pasirmu, seputih mutiara
Berbaris rumah dipunggung bukit
Berkelok-kelok jalannya
Hingga ke ujung hulu lautmu

Tanahmu tanah kelahiran raja-raja
Anak-anakmu pewaris tahta
Para leluhur menjadi pendahulu
Cucu-cucumu sebagai pewaris
besok dan seterusnya

Mama, beta kembali berlayar
Sampai berjumpa mama
Kan kukenang walau hanya sekejap
Melihatmu Ambon Manise

Ambon, KRI 591 16.40 WIT
BR

Jumat, 31 Agustus 2012

Peran Jangkar

Terapung di atas kapal
Gelapnya malam tanpa bintang
Terlihat bayang-bayang tapal
Redup redam  tiada benderang

Inginku melangkah ke sana
Keraskah engkau, Hitamkah warnamu
Daratan Selayar

Namun tiada cara mencapainya
Cukup ku memandang mu
Dari tengah laut, di atas geladak heli
Daratan selayar
Besok ku kembali berlayar


31 agustus 2012 21.03 WIT 
Perairan Selayar
BR

Sabtu, 18 Agustus 2012

Hari Raya Idul Fitri 1433H

Bila ada langkah membekas lara
Terucap kata merangkai dusta
Bila ada tingkah menoreh luka
Manusia tiada sempurna

Sayup terdengar suara takbir
Tanda Ramadhan telah berpamitan
Ampunkan dosa-dosa besar
Barokah dan Rahmat dalam genggaman tangan

Mata kadang salah melihat
Mulut kadang salah mengucap
Hati kadang salah menduga
Dengan niat tulus suci dengan ikhlas
Minal Aidin wal Faizin Mohon Maaf Lahir dan Bathin

BR, Ciamis 1 Syawal 1433 H

Kamis, 26 Juli 2012

Sajak Buat Maryam "Sang Nenek"

Aku bagian dari keturunanmu
Hidup mengabdi sebagai Cucumu
Anakmu bagian dari Ibuku
Pemberi air susu menjadi darahku

Tubuhnya mengecil termakan usia
Kulit keriput rambut memutih
Saat ini 70th engkau hadir
Hanya sebagai penjaga rumah

Keras perjuangan hidup kau sudah lewati masanya
Berbaris rapat pohon galam menjadi sawah yang menguning
Hasil keringatmu bercucuran telapak tangan tergores luka
Semangat mu masih terlihat tak lekang termakan usia meruncing

Namun apadaya sekarang, anak-anakmu terpanggilkan
Sudahlah waktu mu untuk duduk beristirahat, menikmati usia tua
Biarkan anakmu yang akan melanjutkan

Do'a kan, Cucumu ini penerus masa depan,
Engkau simbol semangat hidup
Bagai air yang terus mengalir, dan api yang tak kunjung redup

Itulah cambukkan semangat langkah kaki kedepan

BR, Banjarbaru 6 Ramadhan 1433 H

Sabtu, 21 Juli 2012

Bulan Ramadhan


Pertanda datangnya engkau
Terlihat 2 derajat di langit putih
Alam menyampaikan padamu
Pertanda awal kaki melangkah
Di bulan yang suci

Bulan suci yang penuh hikmah
Bulan suci yang penuh barokah
Bulan suci yang penuh ampunan
Bulan suci yang penuh senyuman

Ialah bulan suci ramadhan

Andai 12 bulan menjadi ramadhan
Alam seisinya menjadi damai dan tentram

Gunung-gunung berseru
Pohon-pohon bersujud
Burung-burung bertasbih
Ikan-ikan bershalawat

Satu umat bergembira
Karena engkau telah tiba
Teriring lantunan do’a
Lewat syair-syair nada
BR
Banjarmasin, 1 Ramadhan 1433 H

Kamis, 12 Juli 2012

Dua Keinginan


Di keheningan malam, Sang Maut turun dari hadirat Tuhan ke sebuah kota yang tertidur serta tempat kediaman di atas menara menjulang. Dia menembus dinding rumah dengan matanya yang bersinar gemilang dan melihat ke dalam jiwa manusia yang melayang di atas sayap-sayap mimpi, dan jasmani yang menyerah kepada sang tidur.
Dan, kala rembulan pundar ketika fajar menyingsing dan kota dibalut oleh kerudung yang mempesona, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di tengah pemukiman mereka sampai dia tiba di rumah mewah si kaya. Dia masuk dan tak seorang pun yang kuasa menghalangi. Dia tegak di sisi ranjang dan menyentuh pelupuk mata orang yang tidur. Orang itu bangun dengan ketakutan. Dan begitu melihat bayangan sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan dan mengamuk.
“menyingkirlah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergi, makhluk jahat! Bagaimana mungkin kau masuk, pencuri, dan yang kau inginkan, penjambret? Minggatlah, karena akulah empunya rumah ini. enyahlah kamu, kalau tidak kupanggil para budak dan para pengawal untuk mencincangmu menjadi kepingan!”
Lalu, sang Maut mendekat dan dengan suara menggeledek mengaum, “Akulah kematian; maka sambutlah dan merendah-hatilah.”
Dan si kaya berkuasa itu bertanya, “Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau dating sedang pekerjaanku belum lagi tuntas? Apa kau menginginkan kekuasaanku? Enyahlah kau dalam gelap. Menyingkirlah kau dariku dan jangan kau tunjukkan padaku cakar tajammu serta rambut yang terjela-jela laksana ular yang berbelit. Enyahlah, karena pemandangan yang rusak membangkitkan rasa benci padaku.” Tapi, setelah kebisuan yang gelisah itu dia berbicara lagi dan berkata.
“tidak-tidak, sang Maut nan lembut, jangan pedulikan apa yang telah kuucapkan, karena rasa takut membua diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah emasku seperlunya atau nyawa salah seorang budak dan tinggalkanlah diriku…. Aku masih memperhitungkan kehidupan yang masih belum terpenuhi dan kekayaan pada orang-orang yang belum terkuasai. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, dan pada hasil bumi yang belum tersimpan. Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya selir cantik bagai pagi hari, untuk kau pilih, kematian. Dengarkanlah lagi : Aku punya seorang putra tunggal yang kusayangi, dialah biji mataku. Ambillah dia juga, tapi tinggalkanlah diriku sendirian.”
Kemudiaan sang Maut meletakkan tangan pada mulut budak kehidupan duniawi itu dan mencabut nyawanya dan menyerahkannya ke atas, ke udara.
Sang Maut meneruskan perjalanannya menuju tempat tinggal si miskin hingga dia mencapai gubuk reyot. Dia masuk ke sana dan menghampiri sebuah yang di atasnya terbaring seorang pemuda. Setelah memandang air mukannya yang tenang dia menyentuh matanya dan anak muda itu terjaga. Dan, ketika dia melihat Sang Maut berdiri di atas lututnya dan mengulurkan kedua tangannya kea rah dirinya dengan suara yang disentuh oleh kerinduaan jiwa dan cinta kasih,anak muda itu berkata,
“Aku di sini, wahai Sang Maut nan elok. Sambutlah ruhku, impianku yang mengejawantah dan hakikat harapanku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, karena kau sangat penyayang dan takkan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Jangan tinggalkan daku. Betapa lama aku mencarimu tanpa menemukan dan memanggilmu namun kau tak mendengarkan! Tapi, kini kau telah mendengarku, karena itu jangan kecewakan cintaku dengan pengelakan diri. Peluklah ruhku, Sang Maut terkasih.”
Lalu Sang Maut meletakkan jari-jarinya nan lembut pada bibir anak lelaki itu dan mencabut nyawanya dan menaruhnya di bawah sayap-sayapnya.
Dan, ketika Sang Maut melesat ke udara, dia menoleh ke belakang dunia ini, dan ke dalam kekosongan menghembuskan kata-kata ini,
“Dia yang tak berasal dari Zat Yang Maha Agung takkan kembali ke Zat Yang Maha Agung.”

Kahlil Gibran

Sebuah kisah yang menunjukkan bahwa kematian akan datang tanpa memberitahukan kedatangannya, bahkan saat semua terlelap disaat pikiran kosong tiada daya dan upaya menolaknya. Dua Keinginan menjadi pilihan bagi manusia, apa yang hendak dipersiapkan saat Sang Maut menghampiri. Setiap yang hidup akan mati, dan setiap yang diperbuat menberikan hasil yang setara.
BR, Yogyakarta

Selasa, 10 Juli 2012

Hari ini & esok hari


Aku hidup di jalanan
Rumah yang tak beratap dan tak berdinding
pikiranku hanya sebatas ujung kaki dan kepala

Taukah engkau esok apa yang akan terjadi?
Tiada yang biasa menjawabnya
Hari esok merupakan misteri hidup manusia
Biarlah waktu yang menghampirinya

Taukah apa yang akan terjadi hari ini?
Jawablah itu saat ini juga
Karena waktu sudah menghampirinya
Punya kaki untuk melangkah
Punya mata untuk melihat
Punya telinga untuk mendengar

Lakukanlah sesuatu dengan itu
Agar mampu bertahan hidup  hari ini
Hari esok, biarlah esok yang memikirkannya
Yang penting hari ini masih bisa untuk makan

BR, Yogyakarta

Sabtu, 07 Juli 2012

Pesan yang tertinggal

Hari Sabtu pagi terlihat suasana di dalam asrama putra tampak ramai tidak seperti hari-hari biasanya, yahhhh, hari yang ditunggu-tunggu kami sebagai siswa-siswi SMA Unggulan Tenggarong, dimana setiap siswanya wajib tinggal di asrama baik putra dan putri. Ijin Bermalam atau IB singkatannya itulah yang kami dapatkan setiap akhir pekan. Keluar dari asrama untuk kembali pulang ke rumah dan menikmati liburan bersama keluarga atau teman-teman di luar satu sekolah. IB setiap sabtu pagi dan kembali lagi ke asrama minggu sore.
Aku lihat beberapa temanku yang ingin IB sudah sibuk menyiapkan perlengkapan mereka untuk pulang kerumah, pakaian kotor selama 1 minggu pun akhirnya keluar dari keranjang mereka untuk di bawa pulang dan dicuci di rumah mereka masing-masing. Mereka yang IB itu para murid-murid yang berdomilisi di Tenggarong, rumah mereka berada di sekitar Tenggarong yang tidak jauh dari lokasi sekolahku. Namun ada juga yang tidak IB di karenakan rumah mereka yang berada di luar kota dari Tenggarong, mereka yang tidak IB biasanya hanya tetap tinggal di asrama, sesekali keluar asrama untuk pergi jalan-jalan di kota Tenggarong. Nasib mereka yang ingin bersekolah ke luar kota jauh dari rumah tempat tinggalnya. Sekalipun mereka harus pulang ke rumah mereka itu karena uang saku yang sudah hamir habis dan harus kembali pulang agar dapat uang saku tambahan lagi.
Aku bersyukur rumahku berada di Tenggarong yang berjarak kurang lebih 5 kilo dari rumah ke sekolah. Namun entah kenapa aku tidak bersemangat untuk pulang IB ke rumah hari ini, hatiku mengatakan jangan pulang ke rumah sebaiknya pergi ketempat lain saja. Dalam benakku akhir pekan minggu yang lalu aku sudah IB dan pulang ke rumah, jadi tidak masalahjika tidak pulang di minggu ini.  Aku pun mengikuti kata hati ini, namun di sisi lain aku juga tidak menginginkan hanya berada di asrama selama akhir pekan ini, aku ingin pergi bermain keluar tidak hanya berada di asrama. Akhirnya aku putuskan untuk ikut ke rumah teman seasramaku yang kebetulan dia IB untuk pulang kerumahnya di Kota Samarinda, Ibu kota Provinsi Kaltim.
Tidak terasa asrama putra tampak mulai sepi, satu persatu para penghuni asrama putra ini berpamitan karena jemputan dari orang tua mereka sudah tiba di sekolah. Hanya tersisa mereka yang tidak IB, tampak mereka bersantai-santai di asrama menikmati kondisi dan suasana asrama yang sepi tidak dipenuhi dengan orang-orang yang lalu lalang, suara-suara teriakan dari ujung sudut, depan dan belakang sisi asrama seperti hari-hari biasanya ketika tidak IB. aku pun bersiap-siap untuk meninggalkan asrama sejenak menikmati akhir pekan minggu ini dengan pergi ke luar kota ikut bersama temanku untuk pulang ke rumahnya.
Akhirnya aku turut mengikuti kata hatiku dengan tidak pulang ke rumah, sesampainya di Samarinda aku merasakan sedikit kebebasan untuk melakukan apapun yang di asrama penuh dengan aturan-aturan yang ketat, mulai dari piket asrama, piket makan, piket kelas dan aturan-aturan lainnya yang di buat oleh Pembina kedisiplinan selama berada di asrama. Aku pun mulai merencanakan mau kemana nanti malam bersama dengan temanku ini. Kami putuskan untuk berkeliling kota Samarinda sambil menikmati keramaiannya.
Malampun tiba, aku bersama temanku sudah bersiap-siap untuk pergi jalan menikmati kota Samarinda di malam hari, dan kebetulan ini juga kan malam minggu pasti ramai sekali Ibu kota Kaltim. Aku yang masih berumur 17 tahun saat itu merupakan waktu beranjak dewasanya seseorang untuk mencari jati diri, mencoba hal-hal yang belum pernah dilakukan ketika masih kecil. Yahhhhhh,,, Samarinda dipenuhi dengan aktivitas remaja-remaja SMA yang turut meramaikan gemerlapnya kota Samarinda di malam hari. Aku lihat banyak para remaja yang berpasang-pasangan sambil mengendarai motor mereka hanya untuk sekedar menikmati suasana malam minggu ini. Tidak terkecuali hanya aku dan temanku yang sejenis yaitu kami para lelaki pemuda harapan bangsa… “heheheeeeeee, sedikit bercanda”. Aku pun menikmati malam minggu itu dengan perasaan senang tanpa ada rasa khawatir sedikitpun kenapa hatiku menuntun untuk tidak pulang ke rumah. Akhirnya malam itu pun ku lewati dengan ramainya suasana malam di Samarinda.
Esok harinya aku terbangun oleh panggilan suara temanku yang sengaja membangunkan ku, entah kenapa dia membangunkanku dengan suara yang halus padahal biasanya saat di asrama cara membangunkan kami yaitu dengan teriakan-teriakan yang keras bahkan kalo tidak bangun juga di bantu sedikit dengan cipratan air. Akhhhhhhh, aku pikir ini kan bukan di asrama, namun yang menjadi pertanyaan kenapa dia membangunkanku sepagi ini, saat jam masih menunjukkan ke angka 5. aku bangun secara perlahan dan membuka mata serambi mengumpulkan kembali jiwa yang masih setengah sadar.
Ternyata temanku juga terbangun karena telepon rumahnya yang berdering berkali-kali, dia mendapatkan panggilan telepon dari tantenya yang berada di Tenggarong, tantenya memberitahukan kabar agar segera kembali ke Tenggarong untuk mengantarkanku pulang ke rumah. Kemudian dia memberitahukan ku bahwa kabar itu untuk aku, dia memberitahukan bahwa kita pulang ke Tenggarong subuh ini juga. Aku yang belum sepenuhnya sadar masih merasakan kantuk segera bersiap-siap, tanpa bertanya kenapa kita kembali sepagi ini. Namun akhirnya dia memberitahukan bahwa terjadi sesuatu di rumahku. Tantenya memberitahukan bahwa keluarga ku mencari dari kemarin siang akhirnya baru dapat info ternyata aku pergi ke Samarinda. Dengan suara yang rendah dia mengatakan bahwa “Ayahmu Meninggal Dunia”. Aku merasakan aliran darahku terhenti setelah mendengar berita itu, tubuhku serasa tidak berenergi dan kaki ku pun seperti tidak mampu untuk menopang lagi badanku ini. Sesegera mungkin temanku itu mengendarai motornya untuk kembali ke Tenggarong dan mengantarkan ku ke rumah.  
Setibanya di rumah aku pun segera bergabung dengan ibu dan 2 adekku, para keluarga besar dari ayahku pun sudah berkumpul di rumahku sejak malam kemarin, dimana aku masih berada di Samarinda waktu itu. Ternyata orang-orang yang ada di rumahku sebelumnya sudah sibuk mencari aku, mendatangi ke asrama, bertanya dengan teman-temanku hingga tau aku ternyata pergi ke Samarinda. Tidak ada pembicaraan sedikitpun yang keluar dari mulutku ataupun dari ibu serta keluarga besar ayahku terkait meninggalnya ayahku. Saat aku tiba di rumahku, para saudara-saudara ayahku pun telah sibuk dengan prosesi sebelum pemakaman untuk orang yang sudah meninggal dunia. Aku pun segera bergabung untuk membantu, tiada banyak yang bisa ku lakukan waktu itu, hanya turut serta dalam memandikan, mensholatkan, dan menguburkan jasadNya, Kemudian selesailah seluruh proses pemakaman itu.
Rasa sedih menyelimutiku saat itu, tiada yang dapat membendungnya, air mata ini terus mengalir, siapa yang tidak sedih di dunia ini jika harus di tinggalkan seorang ayah yang sudah merawat dan mendidik anaknya hingga tumbuh besar. Jangankan seorang ayah, seorang wanita yang menjadi pacarpun jika dia pergi  memutuskan hubungannya bagi seorang pria pun bisa 7 hari 7 malam berduka cita. Tetapi aku teringat dengan pelajaran agama islam di sekolah, bahwa setiap yang hidup itu pasti akan meninggal. Aku pasrah karena itu sudah ketentuan yang Maha Kuasa, namun rasa kesal pun berkecimuk di hatiku, kenapa aku harus mengikuti kata hatiku itu, yang melarangku untuk tidak pulang ke rumah secepatnya. Yahhh,,,, bagi sebagian orang mengikuti kata hati itu adalah petunjuk yang baik. Tapi kenapa kenyataannya tidak seperti itu, penyesalan pun mulai mengakar di kepalaku, aku tidak tau harus menyalahkan siapa atas kejadian ini.
aku merasa kehilangan yang berat dalam hidup ini, tapi aku berpikir bahwa ibuku pun pasti merasakan hal yang lebih hebat lagi dari sedih yang kurasakan ini. Ibu ku memberitahukan bahwa sebelumnya ayahku sudah masuk rumah sakit selama 1 minggu, namun pesan dari ayah untuk tidak memberitahukan berita itu kepadaku. Dia takut mengganggu pelajaran di sekolahku, dia berpesan kepada ibuku untuk menyampaikan amanah agar aku terus sekolah yang tinggi. Pesen ayahku itu ternyata aku tafsirkan sebagai isyarat dari hatiku yang melarang aku untuk tidak pulang ke rumah. Ayahku 1 minggu berada di rumah sakit, dan kebetulan hari sabtu dia pengen kembali ke rumah. Dia merasa tidak nyaman berada di rumah sakit terus. Hari sabtu itu juga aku yang harusnya mempunyai waktu untuk pulang ke rumah namun tidak aku manfaatkan. aku merasa berdosa sekali saat tau di akhir hayatnya seluruh keluarga besar yang ada di Kalimantan itu sudah berkumpul dan hadir di saat detik-detik hembusan napas terakhir ayahku. Kenapa cuma aku yang tidak di perbolehkan hadir? apakah memang sudah takdirnya agar aku tidak berada di samping ayahku? Apa salahku hingga di takdirkan seperti ini?.
Sampai detik ini bagiku itu merupakan kesalahan terbesar semasa hidupku, namun kita harus percaya bahwa di setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Yaaaa… selama ini aku terus hidup dengan hikmah itu, pesan dari ayahku merupakan cambukkan semangat untuk terus belajar dalam kondisi apapun. Kejadian itu membuat aku mengerti akan arti dari hidup, tujuan hidup di dunia. Aku merasa memiliki jalan yang telah di bukakan untuk ku kedepannya mau menjadi seperti apa. Dia boleh pergi meninggalkan dunia ini, namun dia terus hidup di dalam hati, dalam semangat, dalam setiap langkah ku untuk terus belajar.

Itulah sedikit kisah menarik yang tiada mungkin terlupakan olehku selama bersekolah di Sma Negeri 3 Unggulan Tenggarong. Kisah ini terjadi ketika aku kelas 2 Sma. Pada hari sabtu hingga minggu. 10-11/12/2005.

Budi Rahman, Yogyakarta



Rabu, 04 Juli 2012

Berkenalan di ATM


Sore itu, Aku bergegas menuju ke tempat parkiran motor di kampus, baru saja aku selesai jam terakhir kuliah hari ini, untuk segera pulang menuju ke asrama… yahhh, aku tinggal di sebuah asrama mahasiswa daerah kaltim yang ada di Jogjakarta. Waktu sudah hampir senja, kutancap gas motor agar melaju kencang untuk sesegera mungkin tiba di asrama. Aku teringat janji dengan seorang kawan sekamarku, namanya asep, dia kawan satu SMA ku sewaktu di kaltim dahulu dan sekarang menempuh kuliah di Jogjakarta bersama-sama.
Sesampainya di asrama langsung ku menuju ke kamar sambil berlari, langsung ku buka pintu kamar itu tanpa ingat lagi untuk mengetuknya.
“sep…… asepppp…asepppp”
Teriakku memanggil namanya, ternyata dia tidak berada di kamar… huhhhhhh,,, ku tarik napasku dahulu sambil tidur-tiduran di kasur,,, alamak asep nie sudah ku kebut motor di jalan tadi orangnya malah gak ada di kamar. Sedikit kesal kurasakan….
“onkk..onkk…..baonkk….”
Suara asep terdengar memanggil namaku,,,
“iyaaa sepppp,, nengdi kau??”
Akhirnya dia menampakkan batang hidungnya juga,,, ternyata dia baru selesai mandi
“iki lo lagi rampung adus, kok suwi jon??”
Asep memanggilku dengan sebutan “jon” itu istilah atau bahasa gaul anak yang lagi ngetrend sekarang, biar lebih mengakrabkan dengan panggilan yang tidak formal.
“tadi dosennya suwi dab, piyee, sido ra mangkat nang ATM?”
“yoo lahhh, klo ora arep mangan opo ngko mbengi?”
Yahhh,,, kebetulan ini awal bulan seperti biasa mahasiswa rantau menunggu kiriman duit dari para ortu mereka masing-masing.
“udah di kirim kah duit kau?”
“sudahhh jon, makanya ayo mangkat ke ATM dulu, biar bisa mangan malam ini”
“ok lah, ayo mangkat”
Tak lamaa setelah dia rapi memakai bajunya, ku ambil lagi helm, langsung menuju ke parkiran motor di asrama kami.
“berangkat kita??”
“tancap jon”
Dengan berharap kiriman sudah masuk ke rekening kami berdua melaju dengan santai menikmati matahari yang semakin tenggelam semakin lama di telan oleh besarnya Gunung Merapi, hari sudah semakin senja,  tidak lebih dari 15 menit tibalah kami di ATM terdekat, di sekitar kampus UGM.
“ahhkk, rame kali antriannya jon”
Asep sedikit kesal melihat antrian orang yang sedang mengambil uangnya juga. Ada sekitar 5 orang yang sedang mengantri di Atm itu.
“maklumlah sep, kan awal bulan, makanya rame, sabar siket lah kau”
“jon,,jon,, kau tengok tu jon, ada cewek cantik tu yang ngantri”
Belum ku jawab si asep langsung turun dari motor dan mengantri di belakang cewek yang dia bilang cantik tadi. Busyett tu anak, gak bisa liat cewek bening dikit langsung di hajar sama dia pikirku. 10 menit sudah berlalu masih panjang antriannya, capek aku menunggu di atas motor, akhirnya terpaksa aku turun parkir, padahal sudah sengaja untuk tetap di atas motor biar tidak bayar parkir, sedikit perhitungan maklum sebagai mahasiswa rantau.. hheeee… langsung aku ikut mengantri juga di belakangnya asep.
“sep, gimana ceweknya”
“tunggu dululah jon, nie baru mau aku speak-speak dulu”
“sipppppp,, gasakkk”
Memang si asep kalo yang namanya berkenalan dengan cewek paling jago dia, mungkin urat malunya udah  kepotong. Aku liat dari dekat ternyata ceweknya lumayan bersih juga, dari jauh tadi aku liat sih biasa saja, setelah diliat dari dekat baru keliatan manisnya. Memang si asep matanya kayak burung elang dari jauh saja sudah bisa melihat dengan jelas paras cewek cantik atau tidak,,, ckckckccc.. ku dengar si asep memulai percakapn dengan cewek itu.
“lama bener yahhh orang di dalam atm itu”
Cakap si asep dari belakang cewek itu. Kemudian cewek itu pun melihat kebelakang dan tersenyum kepada si asep. Yahh,, asep juga biar kecil badannya tapi gayanya keren abis, cara berpakaiannya seperti anak band beraliran Rock N Roll. Tentulah cewek tadi tersenyum ketika bertatapn dengan si asep.
“ehmmmm, mau ngambil uang juga neng?”
Tanya si asep ke cewek itu, dia sudah memulai percakapan rupanya.
“iya mas, lama yah antriannya”
“iya nih neng, mesin Atm disini memang rada lama”
“owhhh, iyaa mas??? Baru tau,, hemmm..”
Tidak banyak percakapan yang terjadi tibalah giliran cewek itu sekarang yang masuk ke Atm.
“gimana sep ceweknya, siapa namanya??”
Tanyaku kepada asep.
“belum tau jon, keburu masuk tadi dia, tunggu keluar aku cegat dulu, kau gantiin aku duluan aj  masuk ke Atmnya”
Bisa aj idenya si asep, aku yang di suruh dia duluan masuk ke Atm, jadi bias mencegat dulu cewek tadi. Hahaaaa,,,
“okk sep, Tanya no hpnya sekalian”
Begitu cewek itu keluar aku langsung masuk ke Atm, si Asep sudah siap menunggu cewek itu.
Aku liat dari dalam Atm si asep berhasil menahan cewek itu untuk langsung pergi, jadi tak sabar juga aku menunggu hasil apa yang dia dapat. Begitu aku selesai keluar dari Atm cewek itu pun segera pergi dan si asep langsung masuk ke Atm.
“cepet sep, kau masuk sana”
“yoi jon”
Aku liat ternyata antrian masih panjang saja di Atm ini, segera aku menuju ke motorku dan mengeluarkannya dari parkiran yang sudah tersedia. Seperti biasa, ada yang membantu saat aku mengeluarkan motor, yahhh,, dia seorang laki-laki yang menjadi tukang parkir di sekitar Atm ini. dengan uang 1000 Rp aku kasihkan ke tukang parkir itu…
“makasih yaa pak”
“nggih masss”
Si asep segera menuju ke arahku, aku liat wajahnya begitu senang. Pasti kiriman udah dapet,,,,
“lama kali sep ngambilnya, berapa juta emng?”
“berapa juta pala loe peyang, Cuma cepe’ jon”
“sippplahh,, gimana cewek tdi??, udh dpt no hpnya??”
“yoiii jon, namanya Jessica no hp udah aku save”….
“mantap kali lah kau,,, sipppp,,,,, kemana kita????
“cari makan dulu jonnnn”
“Okkkk,,, tancapppppp” !!!!........
Tanpa terasa hari sudah semakin gelap, suara Adzan magrib pun sudah terdengar………

Budi Rahman, Yogyakarta
   


Rabu, 27 Juni 2012

AyahKu

ayah maapkan aku
ayah aku tak tau engkau hendak pergi
ayah aku telah melakukan kesalahan besar
ayah aku datang setelah kau pergi

ayah sungguh tega kau tinggalkan aq dan ibuku
ayah aku belum menjadi anak yang terbaik untukmu
ayah mana tanggung jawabmu sebagai pemimpin dalam rumah kita
ayah aku butuh belaian dan bimbingan darimu

namun, rasa kecewa ini aku tenggelamkan kedasar samudera yang paling dalam
aku tidak membencimu ayah, setelah kau tinggalkan kami
namun, jika engkau mendengar teriakanku ayah
kembalillaahhhh...kembalilaahhhhhhh..... kembalilah ayahku.

walaupun engkau jauh disana
namun engkau begitu dekat dalam hatiku
ayahhhhhh,,,, doaku selalu untuk Mu......

BR, Yogyakarta

Jumat, 22 Juni 2012

Pekerjaan Untuk Keabadian

Menulis adalah pekerjaan untuk keabadian, seperti kata sastrawan yang banyak mempengaruhi pemikiran saya untuk memulai menulis Pramoedya Ananta Toer "Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari" dengan memulai blog ini saya mencoba untuk memulai menulis apa yang terlihat di mata, di hati, di kepala dan bahkan di dengar oleh telinga dari setiap perjalanan waktu yang saya lewati.

Chitika