Senin, 10 Februari 2014
Karya-karya Tan Malaka "Tokoh Aliran Kiri"
Minggu, 09 Februari 2014
Tan Malaka
Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (Suliki,
Sumatera Barat, 2 Juni 1897 – meninggal di Desa Selopanggung, Kediri,
Jawa Timur, 21 Februari 1949 pada umur 51 tahun adalah seorang aktivis
kemerdekaan Indonesia, filsuf kiri, pemimpin Partai Komunis Indonesia, pendiri
Partai Murba, dan Pahlawan Nasional Indonesia.Sabtu, 24 November 2012
Orang tua dan Anak-anaknya
Dan seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dekapan dadanya berkata, bicaralah pada kami perihal anak.
Dan dia berkata:
Anakmu bukanlah anakmu
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.
Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau,
Dan walau mereka bersamamu tapi mereka bukan kepunyaanmu.
Kau dapat memberi mereka cinta-kasihmu tapi tidak pikiranmu,
Sebab mereka memilik pikirannya sendiri,
Kau bisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya,
Sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan, yang tiada dapat kau sambangi, bahkan tidak dalam impian-impianmu.
Kau boleh berusaha menjadi seumpama mereka, tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu.
Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin.
Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan nan tiada terhingga, dan Dia menekukkan engkau dengan kekuasaan-Nya agar anak panah-Nya dapat melesat cepat dan jauh.
Meliuklah dengan riang di tangan Sang Pemanah.
Sebab sebagaimana Dia mengasihi anak panah yang melesat, demikian pula Dia mengasihi busur nan mantap.
Itulah kutipan dari karya "Sang Nabi" Kahlil Gibran
Dia menunjukkan betapa sucinya seorang anak yang baru lahir ke kehidupan, dengan tiada yang dapat menentukan akan hidupnya nanti. Memiliki kemerdekaan abadi dari lahir hingga kembali mati melalui jalan yang Dia pilih sendiri, tanpa ada campur tangan dari sang Ibu. Namun Ibu hanya memberikannya air susunya agar kelak sang anak menjadi kuat.
BR, Asrama Kukar Yogyakarta.
The Power of Life
Syukuri apa yang ada
Karena yang ada adalah anugerah
Tuhan bekerja dengan misterius
Tiada yang tau apa yang akan terjadi
Apa yang tiada kita miliki
Jangan anggap sebagai kelemahan
Karena kekuataan tidak datang dari kesempurnaan
Melainkan dari Cinta yang tulus
Jangan menyerah jadilah Bintang
BR, Yogyakarta.....
Kamis, 15 November 2012
Tameng Ibu Pertiwi
Review Buku Ibarruri " Putri Alam"
BR, Yogyakarta
Minggu, 16 September 2012
Putra Semalam
Hanya satu malam dilahirkan
Senyum kasih dan sayang
Putra semalam di tanah Sultan
Mentari pagi sampaikan salamnya
Mengukir jejak seribu langkah
Bersorak ramai riang gembiranya
Batu hitam saksi dalam langkah
Dalam gelap menutup tangan
Kemesraan dalam hangat pelukan
Air mata tak kunjung padam
Menjadi putra dalam semalam
Rabu, 05 September 2012
Ambon Manise
Menjadi awal langkah kaki
Untuk layar tidak terkembang
Biru lautmu, hijau hutanmu
Putih pasirmu, seputih mutiara
Berbaris rumah dipunggung bukit
Berkelok-kelok jalannya
Hingga ke ujung hulu lautmu
Tanahmu tanah kelahiran raja-raja
Anak-anakmu pewaris tahta
Para leluhur menjadi pendahulu
Cucu-cucumu sebagai pewaris
besok dan seterusnya
Mama, beta kembali berlayar
Sampai berjumpa mama
Kan kukenang walau hanya sekejap
Melihatmu Ambon Manise
Jumat, 31 Agustus 2012
Peran Jangkar
Gelapnya malam tanpa bintang
Terlihat bayang-bayang tapal
Redup redam tiada benderang
Inginku melangkah ke sana
Keraskah engkau, Hitamkah warnamu
Daratan Selayar
Namun tiada cara mencapainya
Cukup ku memandang mu
Dari tengah laut, di atas geladak heli
Daratan selayar
Besok ku kembali berlayar
Sabtu, 18 Agustus 2012
Hari Raya Idul Fitri 1433H
Terucap kata merangkai dusta
Bila ada tingkah menoreh luka
Manusia tiada sempurna
Sayup terdengar suara takbir
Tanda Ramadhan telah berpamitan
Ampunkan dosa-dosa besar
Barokah dan Rahmat dalam genggaman tangan
Mata kadang salah melihat
Mulut kadang salah mengucap
Hati kadang salah menduga
Dengan niat tulus suci dengan ikhlas
Minal Aidin wal Faizin Mohon Maaf Lahir dan Bathin
BR, Ciamis 1 Syawal 1433 H
Kamis, 26 Juli 2012
Sajak Buat Maryam "Sang Nenek"
Hidup mengabdi sebagai Cucumu
Anakmu bagian dari Ibuku
Pemberi air susu menjadi darahku
Tubuhnya mengecil termakan usia
Kulit keriput rambut memutih
Saat ini 70th engkau hadir
Hanya sebagai penjaga rumah
Keras perjuangan hidup kau sudah lewati masanya
Berbaris rapat pohon galam menjadi sawah yang menguning
Hasil keringatmu bercucuran telapak tangan tergores luka
Semangat mu masih terlihat tak lekang termakan usia meruncing
Namun apadaya sekarang, anak-anakmu terpanggilkan
Sudahlah waktu mu untuk duduk beristirahat, menikmati usia tua
Biarkan anakmu yang akan melanjutkan
Do'a kan, Cucumu ini penerus masa depan,
Engkau simbol semangat hidup
Bagai air yang terus mengalir, dan api yang tak kunjung redup
Itulah cambukkan semangat langkah kaki kedepan